Senin, 22 Februari 2010

Kisah Sukses Mantan Seorang Petugas Keamanan

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.
Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.
Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.
>
Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.
Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk
memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.
Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.
Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah,
membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.
Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika
beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.
“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”.
Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya. Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial. Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.

Selasa, 16 Februari 2010

PENGUSAHA TOKO BUKU




Pada tahun 2002 toko buku tersebut didirikan oleh seseorang yang bernama Ibu Marida Siagian. Sebelum membuka usaha toko buku, Ibu Marinda adalah seorang karyawan penjaga toko buku di gramedia. Dan akhirnya Ibu Marinda mempunyai keinginan membuka usaha toko buku sendiri.Perlahan – lahan Ibu Marinda membuka sebuah toko buku yang kecil yang berada dipinggiran jalan.Toko tersebut diberi nama Inzahra. Ibu Marinda menjual berbagai buku – buku dari buku pelajaran,kamus, alat tulis,dll.. Walaupun membutuhkan kesabaran yang lama untuk menjalankan usaha tersebut. Dalam menjalankan usaha tersebut Ibu Marinda mempunyai 1 karyawan yang melayani para pembeli. Sebulan demi sebulan toko tersebut kedatangan pengunjung dari sekolah – sekolah untuk memesan buku pelajaran untuk siswa. Setahun sudah berlalu menjalani usaha toko buku ini.


Pada tahun 2003 toko buku Ibu Marinda semakin baik dan akhirnya Ibu Marinda kedatangan seorang marketing dari penerbit erlangga,dll. Yang menawarkan buku keluaran baru tiap tahunnya. Dan Ibu Marinda mengambil tawaran tersebut hingga bekerja sama dengan perusahaan buku – buku yang lain. Terkadang bila ada buku yang tidak ada ditoko tersebut yang dicari oleh pelanggan Ibu Marinda langsung memesan buku tersebut dari seorang marketing atau perusahaan bukunya langsung,
Pada tahun 2008 toko Ibu Marinda menjadi berkembang dan membuka cabang di daerah yang terletak di Cijantung. Toko tersebut letaknya didaerah perkampungan dipinggiran jalan yang tidak jauh dari sekolah – sekolah lain. Ibu Marinda mempunyai karyawan baru yang bekerja di toko cabang tersebut. toko tersebut lumayan besar , lumayan lengkap dan cukup ramai.
Pada tahun 2009 Ibu Marinda Membuka cabang lagi yang terletak di Cibinong dan menambah karyawan baru lagi sekitar 3 orang. Toko di daerah cibinong cukup besar. Dan banyak pengunjung untuk mencari buku – buku yang dibutuhkanya. Akhirnya toko buku Ibu Marinda menjadi maju dan berkembang hingga saat ini dan nama toko tersebut tidak berubah walaupun telah bercabang kemana – mana. Posisi Ibu Marinda menjadi seorang pemimpin toko tersebut yang mengatur para karyawannya. Inilah kisah sebuah usaha dari Ibu Marinda dari awal hingga saat ini.
Most Wanted © 2008. Free Blogspot Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute
This template is Edited and brought to you by : allblogtools.com Blogger Templates